Select Page
BERBAGI DEMI RIDHO ILAHI

BERBAGI DEMI RIDHO ILAHI

Agama Islam tidak hanya mengatur interaksi antara seorang hamba dengan Rabbnya, akan tetapi agama ini juga mengatur interaksi antar sesama hamba. Bahkan baiknya interaksi seorang hamba dengan hamba lainnya, mampu mempengaruhi interaksi hamba tersebut dengan Rabbnya. Hal ini dikarenakan Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga interaksi baik dengan sesama hamba lainnya.

Dalam kehidupan Manusia di Dunia, banyak sekali hal-hal yang dibutuhkan demi menunjang kehidupannya, mulai dari kebutuhan yang bersifat primer, sekunder ataupun tersier. Makanan dan minuman merupakan kebutuhan paling mendasar untuk menunjang kehidupan Manusia. Oleh karenanya, Allah ﷻ banyak sekali menyebutkan tentang makanan di dalam Al-Qur’an serta aturan yang telah Allah ﷻ tetapkan dalam hal tersebut. Setidaknya ada 4 poin besar dalam pembahasan tentang makanan di dalam Al-Qur’an, yakni:

Pertama: Pada hakikatnya, Allah ﷻ yang memberikan makanan kepada Manusia, karena semua adalah milik Allah ﷻ. Oleh karenanya, apa yang dimiliki dan dinikmati oleh Manusia pada dasarnya adalah milik dan pemberian dari Allah ﷻ, termasuk makanan. Maka benarlah firman Allah ﷻ:

قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيّٗا فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُۗ قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ  [ الأنعام:14-14]

Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik”. [Al An’am:14]

Kedua: Perintah untuk berbagi makanan sebagai wujud rasa syukur atas pemberian Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ  [ الحج: 28]

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. [Al Hajj:28]

Ketiga: Allah ﷻ mengancam mereka yang enggan berbagi. Allah ﷻ berfirman:

مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ  ٤٢ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ  ٤٣ وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ  ٤٤ [ الـمّـدّثّـر:42-44]

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, [Al Muddaththir: 42-44]

Keempat: Memberi makan sebagai tebusan atau denda. Allah ﷻ berfirman:

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ  ١٨٤ [ البقرة: 184]

…..Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Al Baqarah:184]

Selain sebagai tebusan atau denda dalam hal ibadah Puasa, Allah ﷻ juga menjadikan pemberian makan kepada orang miskin sebagai tebusan atau denda terhadap pelanggaran dalam kondisi ihram[1] serta pelanggaran terhadap sumpah[2].

Cuplikan-cuplikan ayat tersebut di atas serta ayat-ayat lain yang senada membentuk sebuah rangkaian yang sangat indah. Allah ﷻ menjelaskan bahwa Dialah yang menyediakan segala macam fasilitas penunjang kehidupan Manusia, memberikannya rizki berupa makanan, minuman serta kenikmatan lainnya. Maka hendaknya Manusia bersyukur dengan cara berbagi dari apa yang telah Allah ﷻ berikan. Bagi mereka yang enggan untuk berbagi, maka Allah ﷻ memberikan ancaman agar mereka takut serta segera menyadari kesalahannya.

Kemudian Allah ﷻ memperluas peluang untuk berbagi dengan menjadikan pemberian makan sebagai tebusan dalam hal sumpah serta ritual ibadah. Hal tersebut memberikan kita beberapa pelajaran penting, di antaranya:

  1. Hablun Minallah tidak menafikan Hablun Minannas
  2. Baiknya interaksi dengan sesama makhluk dapat membantu mendekatkan hubungan kita dengan Allah ﷻ
  3. Apa yang kita miliki pada hakikatnya bukanlah milik kita, namun milik Allah ﷻ.

[1] QS. Al-Maidah: 95

[2] Qs. Al-Maidah: 89

SEPERTI UTRUJJAH

SEPERTI UTRUJJAH

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (متفق عليه)

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra, ia berkata (bahwa) Rasulullah ﷺ  bersabda:

Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, baunya wangi dan rasa buahnya enak. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah Kurma, tidak berbau namun rasanya enak. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit. (Muttafaqun ‘alaih)[1]

Dahulu Utrujjah atau Utrunjah merupakan salah satu buah elit di kalangan masyarakat Arab. Harganya pun cukup mahal, sehingga di salah satu pembahasan fiqih, buah Utrujjah dijadikan sebagai patokan nishob hukum potong tangan. Artinya, ketika seseorang mencuri buah Utrujjah maka ia akan dikenakan hukuman potong tangan.

Apa sebenarnya yang membuat buah ini begitu berharga?

  1. Harum baunya
  2. Indah warna dan bentuknya
  3. Manis rasanya
  4. Lembut tekstur dan daging buahnya

Siapapun yang memakan buah Utrujjah, maka keempat panca indera; indera penglihatan, indera perasa, indera peraba, dan indera pengecap akan merasakan nikmat luar biasa. Jika saja buah tersebut mampu bicara, barangkali suaranya pun merdu ketika ditangkap oleh indera pendengar.

Begitulah gambaran seorang mukmin yang gemar membaca Al Qur’an. Suara bacaan Al Qur’an seorang mu’min akan dinikmati para pendengarnya, laksana semerbak harum Utrujjah yang memikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

Memandang mu’min tersebut pun begitu membahagiakan. Seolah kejernihan hati dan iman yang ada dalam hatinya terpancar dan terlihat jelas dari wajahnya. Melihat wajah teduhnya menimbulkan kerinduan untuk segera berinteraksi dan berada di dekatnya, sebagaimana kerinduan seseorang untuk memegang dan mencicipi kelezatan buah Utrujjah setelah melihatnya.

Keindahan yang terbias dari seorang mu’min yang gemar membaca Al Qur’an, membuat siapa pun yang ada di dekatnya seolah sedang menikmati manisnya buah Utrujjah melalui perangai dan tutur katanya.

Tatapannya teduh dan hatinya lembut ibarat tekstur buah Utrujjah, sehingga siapapun akan mudah berinteraksi dan merasa senang berada di dekatnya. Sebagaimana buah ini tidak mengecewakan penikmatnya, begitu pula dengan mu’min yang gemar membaca Al Qur’an. Ia tidak akan menyusahkan, mengecewakan atau melukai perasaan saudaranya.

Namun, mengapa kini banyak kita jumpai ‘Utrujjah’ yang hanya harum baunya, tetapi bentuk dan warnanya tidak menarik? Rasanya pun tidak manis bahkan pahit dan tekstur dagingnya keras. Mengapa bisa demikian?

Barangkali, ‘Utrujjah’ yang kita jumpai saat ini dipetik dari pohon sebelum masanya, sebelum ia benar-benar matang.

Ya, barangkali seorang mu’min yang membaca Al Qur’an saat ini banyak yang dipetik dari pohon sebelum masak dan ranum imannya. Maka, ia hanya merdu suara bacaannya, namun kasar perangainya, pahit tutur katanya, serta tak elok penampilannya.


[1] HR. Imam Bukhori No.5427 dan Imam Muslim No.797

SEMUA TENTANG WANITA

SEMUA TENTANG WANITA

Ia mewakili pesona keindahan dan di balik kelembutannya ada kekuatan. Jika ia baik, maka baiklah sebuah umat. Begitu pula sebaliknya, jika ia rusak, maka rusaklah suatu umat. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan:

إذا أردت أن تعرف رقية أمة فانظر إلى نساءها

Apabila engkau ingin mengetahui keluhuran suatu umat, maka lihatlah kondisi para wanitanya

Ya itulah wanita, makhluk yang telah Allah ﷻ ciptakan permulaannya dari tulang rusuk Adam ‘Alaihis Salam. Ia diciptakan dari tulang rusuk seorang pria, agar senantiasa berada di sampingnya. Ia diciptakan dari tulang rusuk seorang pria, agar tidak terinjak-injak oleh kakinya. Dan ia diciptakan dari tulang rusuk seorang pria, agar tidak mengungguli di atas kepalanya.

Adam ‘Alaihis Salam Pun Kesepian Tanpanya

وَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim (QS. Al-Baqoroh: 35)

Imam Ibnu Katsir menukil kalimat As Suddiyy dalam tafsirnya: “Setelah Iblis diusir dari Surga dan Adam ‘Alaihis Salam tinggal di dalam Surga, ia berjalan ke sana kemari tanpa pendamping yang mampu memberikannya kedamaian. Kemudian ia tidur lalu terbangun, sedangkan di samping kepalanya ada seorang wanita yang sedang duduk, Allah telah menciptakannya dari tulang rusuknya. Kemudian Adam ‘Alaihis Salam bertanya kepadanya “siapakah engkau?” ia menjawab “seorang wanita”. Adam ‘Alaihis Salam bertanya kembali “untuk apa engkau diciptakan?” ia menjawab “agar engkau merasa tenang dan damai bersamaku”. Para Malaikat pun bertanya kepada Adam ‘Alaihis Salam “siapakah namanya wahai Adam?” Adam “Alaihis Salam menjawab “Hawwa”, para Malaikat kembali bertanya “ mengapa diberi nama Hawwa?” Adam ‘Alaihis Slam menjawab “karena sesungguhnya ia diciptakan dari sesuatu yang hidup (Hayy)”.

Wanita dan Cermin

Dua buah kata yang terlihat sangat berbeda, namun tidak demikian jika kita mengucapkannya dalam bahasa Arab. Wanita dalam bahasa Arab adalah Mar’ah  (المرأة) dan cermin dalam bahasa Arab adalah Mir’ah (المرآة). Meskipun akar katanya berbeda, namun kemiripan kedua kata tersebut bertemu dalam sebuah pola. Sebagaimana wanita dan cermin memang berbeda, namun keduanya bertemu dalam sebuah kemiripan sifat yang ada.

Mereka yang berada di hadapan cermin akan mampu melihat dirinya dengan jelas, sehingga nampaklah apa yang kurang dari penampilannya.  Kemudian, setelah apa yang nampak kurang dapat diperbaiki, maka akan timbul rasa percaya diri.

Begitu pula dengan wanita, ia senantiasa mampu melihat kekurangan dari penampilan suaminya. Maka tak jarang seorang wanita mendadak sibuk memandang dan memperhatikan penampilan sang suami dari berbagai sudut, bahkan inci demi inci akan ia perhatikan dengan seksama. Terkadang ia bagaikan cermin yang ada di depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah.

Mereka yang sudah beristri akan cenderung tampil percaya diri. Hal ini dikarenakan penampilannya tersebut sudah melalui berbagai macam seleksi yang ketat dari sang istri tercinta.

Wanita dan cermin sangat erat kaitannya. Di mana wanita akan tersiksa, jika ia tak mampu melihat pantulan dirinya. Daripada ia hidup dalam istana megah tanpa cermin, ia akan lebih memilih hidup dalam rumah sederhana, yang cerminnya ada di mana-mana.

Antara yang Tertutup dan Terbuka

Kata Imro’ah dalam bahasa Arab yang berarti wanita dalam bahasa indonesia, ditulis dalam Al-Qur’an Rosm Utsmani  dengan dua huruf yang berbeda bentuk. Satu ditulis dengan Ta’  yang tertutup (marbuthoh) “ة” dan satu lagi ditulis dengan Ta’  yang terbuka (maftuhah) “ت”.

Agar lebih mudah dibahas, mari kita perhatikan dua pengelompokan tersebut sebagaimana berikut:[1]

  1. Ta’ Marbuthoh

وَإِن كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَٰلَةً أَوِ ٱمۡرَأَةٌ وَلَهُۥٓ أَخٌ أَوۡ أُخۡتٌ فَلِكُلِّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُۚ فَإِن كَانُوٓاْ أَكۡثَرَ مِن ذَٰلِكَ فَهُمۡ شُرَكَآءُ فِي ٱلثُّلُثِۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍ غَيۡرَ مُضَآرٍّ وَصِيَّةً مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun wanita yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari´at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun (QS. An-Nisa:12)

وَإِنِ ٱمۡرَأَةٌ خَافَتۡ مِنۢ بَعۡلِهَا نُشُوزًا أَوۡ إِعۡرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يُصۡلِحَا بَيۡنَهُمَا صُلۡحًاۚ وَٱلصُّلۡحُ خَيۡرٌۗ وَأُحۡضِرَتِ ٱلۡأَنفُسُ ٱلشُّحَّۚ وَإِن تُحۡسِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. AN-Nisa: 128)

إِنِّي وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةً تَمۡلِكُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن كُلِّ شَيۡءٍ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (QS. An-Naml: 23)

  • Ta’ Maftuhah

إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Ali Imron: 35)

وَقَالَ نِسۡوَةٌ فِي ٱلۡمَدِينَةِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفۡسِهِۦۖ قَدۡ شَغَفَهَا حُبًّاۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِي ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata” (QS. Yusuf: 30)

وَقَالَتِ ٱمۡرَأَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَيۡنٖ لِّي وَلَكَۖ لَا تَقۡتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ

Dan berkatalah isteri Fir´aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari (QS. Al-Qoshos: 9)

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍۖ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)” (QS. At-Tarim: 10)

Terlepas dari perbedaan pendapat, apakah penulisan Rosm Al-Qur’an merupakan Tauqifi atau Ijtihadi, ada ilmu yang sangat menarik yang dapat kita peroleh dari perbedaan penulisan kata Imro’ah tersebut. Dari beberapa ayat yang telah disebutkan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagaimana berikut:

  1. Kata Imro’ah dengan Ta’ tertutup hanya menjelaskan jenis kelamin, tidak definitif dengan sendirinya dan tidak ada penisbatan. Sedangkan kata Imro’ah dengan Ta’ terbuka, selain menjelaskan jenis kelamin, ia juga definitif dengan menjelaskan status sebagai istri orang tertentu.
  2. Kata Imro’ah dengan Ta’  terbuka mengindikasikan kemungkinan hamil, sedang hamil atau kelak akan melahirkan, seolah-olah Ta’ yang terbuka dengan titik di antaranya mengindikasikan rahim yang terbuka dan mungkin akan menerima bakal janin.

Menakjubkan, sisi kemukjizatan Al-Qur’an ada dalam setiap susunannya. Baik itu susunan surat, ayat, kalimat, bahkan hurufnya.


[1] Contoh-contoh yang dihadirkan adalah kata dalam bentuk tunggal (mufrod) dan tidak disandarkan kepada Dhomir Muttasil. Sebab, kata dalam bentuk ganda dan yang disandarkan kepada Dhomir Muttasil, sulit melihat perbedaan dalam penulisannya. Sedangkan dalam bentuk jamak akan berubah penulisannya.